Tuesday, May 14, 2013

Risa Harry Another story: When we First Meet part.4 (Devil Skill)


Risa diajak pergi oleh Harry. Kira-kira risa mau dibawa kemana ya? Dan mau diapakan risa?
Mari capcus lol









Harry Pov

Mana nih si cewek itu. Aku sudah menyuruhnya datang dengan tepat waktu. Apakah dia tidak datang? Grrr jangan sampai aku kehabisan kesabaran.

“Harryyyyyy, maaf bis yang tumpangi tadi mogok dijalan” ya, suara cewek itu
“lo bodoh atau apa sih gue udah nunggu lo 45 menit yang lalu tau gak”
“hah? 45 yang lalu? Tapi kan kita janjian ontime 5menit yang lalu, kenapa kamu datang 45 menit yang lalu?” jawabnya bingung

degh ! aku terhening sejenak memikirkan perkataannya. Iya, benar juga kenapa aku datang sangat lebih awal dari waktu yang di janjikan. Padahal kan janjian ontime 5 menit yang lalu. Kenapa aku se antusias ini? “eng ….. ya sudah lah ga usah mikirin itu lagi, ayuk jalan. Temenin gue”. Baru beberapa langkah kami berjalan dia sudah menanyakan tujuan perjalanan kami. “Har, kita mau kemana? Kamu belum bilang kita mau kemana”. Aku hanya terdiam dan mencoba menggenggam tangannya alih alih takut dia kabur meninggalkanku. Sudah beberapa menit kita berjalan, dia menatapku kebingungan, tenanglah kau takkan aku culik atau di selundupkan untuk dijual di luar negeri. diamlah sebentar lagi kita akan sampai.



“Mall?” serunya
“iya, emang lo kira kita bakalan kemana?”
“aku kira kamu akan mengajakku ke daerah geng-geng motor, club, perkumpulan preman atau semacamnya” ucapnya
“ya ga mungkin lah gue ngajak lo ke tempat risih kayak begituan. Gue aja ga suka tempat kayak gitu”
“eh? Aku kira kamu suka ke tempat seperti itu?”
“gak lah lo ada-ada aja sih, walaupun gue trouble maker bukan berarti gue kayak anak ga didik. dasar bodoh” ucapku sambil menyentuh dahinya dengan jari telunjukku
“ehhhhh serius kamu ga suka hal-hal seperti itu? Syukurlah ihihi” senyum indah terpancar dari bibirnya mendengar bahwa aku tidak suka tempat seperti itu, dia itu bodoh atau apa sih?. Aku mempercepat langkah dan mengajak ke sesuatu lorong di mall tersebut, ya ini jalan menuju tempat favorit ku. Tadah, ini dia game center … Tempatku favoriteku.

“game center!” sahutnya.
“iya game center, gue lebih suka tempat kayak gini dibandingin yang lo sebutin tadi”
“eum…. aku mau naik itu” tunjuknya ke wahana Merry-Go-Round.

Yang benar saja? Masa aku harus menaiki itu bersama nya? Apa kau tak melihat umur dan tubuhmu yang tidak cukup muat untuk menaiki itu? Dasar Sibodoh ituuuu ! ya Tuhan. Dia pun menarik tanganku menuju wahana itu. Jreng akhirnya aku naik wahana itu, aku pasti terlihat sangat bodoh. Anak-anak di sekitar game center itu tertawa melihatku, grrr kalau kau bukan anak anak akan ku lempar mulutmu itu dengan sepatuku. Aku menoleh melihat cewek itu, dia terlihat sangat senang. What? Masa dia senang menaiki wahana anak bayi seperti ini?. “HAH sudah ! aku mau menaiki wahana lain !” aku pun turun dari merry-go-round dan menarik tangannya menuju boxing game machine. “Lihat ini, aku akan menunjukanmu kehebatanku” aku yakin akan membuat new high score! 1…. 2 …. 3…. Aku pukul mesin itu dengan sekuat tenaga. Yak aku pasti dapatkan highscore ! dan ku buat dia takjub padaku. ‘tengneng ~ wow fantastic new highscore’ suara machine game itu mengelegar dan menandakan bahwa akulah pencetak high score baru. Tickets pun keluar. Sudah jelas banyak tiket yang keluar. Cewek itu mengambil tiket yang tidak berhenti keluar dari mesin itu, “wah ini banyak sekali har” Dia memungutinya dengan wajah sangat bahagia. Dia lebih takjub dengan tiket nya dibandingan kehebatanku? Dasar cewek itu…
 Sesudah selesai mengambil tiket itu aku pun menuju racing game machine, hitung-hitung sebagai rasa kangenku pada balapan. Saat aku selesai aku tak melihat cewek itu disampingku, kemana dia? Tau gitu aku terus genggam tangannya. Apa dia sudah pulang karena bosan disini? Ah tidak mungkin. Lebih baik aku cepat-cepat mencarinya atau dia benar-benar pulang, kulihat ada seorang wanita sedang berdiri di  mesin mengambil boneka. Sepertinya itu si cewek itu, Tidak salah lagi. Aku menghampirinya pelan-pelan, apa dia ingin boneka itu? Yang benar saja. Lagi-lagi dia lupa kodrat dia bahwa dia sudah menjadi wanita yang tak pantas lagi bermain boneka seperti itu.

“eh elo. Ngapain disitu?”
“aku ingin boneka itu tapi itu tidak bisa har. Padahal itu koin terakhirku”lirihnya
“bodoh” aku ambil koin dari kantung celana ku. Aku masukan koin itu dan mencoba mengambil boneka yang dia inginkan. Ini tidak terlalu sulit, kau hanya perlu memilih boneka yang kau ingin pilih dan dan mencapitnya. Bingo ! aku dapatkan boneka itu, dan ku lihat air muka cewek itu sudah lebih baik daritadi.

 “hey bodoh, ini boneka lo. lain kali kalau minta bantuan panggil gue”
“untukku? Wah Terimakasih. Tapi aku tak mau merepotkanmu har” ucapnya senang
“udahlah, pokoknya lo jangan sungkan lagi sama gue. Ngerti?”
“iya aku ngerti” dia menggendong boneka yang baru saja kudapatkan dan juga memegang tiket untuk di tukarkan ke kasir.




Risa Pov

Yessss. Harry mendapatkan boneka yang sangat aku inginkan itu. kenapa dia jago sekali dengan segala permainan di game center ini? Untuk mendapatkan boneka itu saja aku harus menghabiskan semua koinku, bahkan semua koin yang ku habiskan tidak mendapatkan apapun. Hari ini sangat menyenangkan walaupun mengorbankan banyak koinku. Aku dan harry pun segera menuju kasir untuk menukarkan tiket yang sangat banyak ini.

“ini banyak sekali. pasti ini karena kamu kan har” ucap mbak kasir itu sambil menghela nafas
“lalalala, Abis mesin-mesin mu payah. Baru juga ku mainkan sekali eh aku mendapatkan high score” sombongnya
“kalau ada banyak yang seperti mu main di tempatku. Aku bakalan rugi besar” kasir itu menggeleng-gelengkan kepalanya”

Tiket itu pun kami tukarkan dengan sepasang gelang yang sepertinya mahal. Mereka sangat pantas di lengan kami, aku terdiam dan memikirkan apakah kami bisa disebut sebagai teman? Teman itu selalu berbagi dan jalan bersama seperti ini kan?. “oi” seseorang berkata sambil memukul pelan pundakku, Itu suara harry. “eh? Iya?” kagetku. “ngapain ngelamun? Ayuk jalan lagi” ucap harry. Kami pun bergegas pergi lagi dan di perjalanan harry menggandeng tanganku erat-erat.

2 comments: