Hari selanjutnya … mereka jadi
sering bertemu. apakah itu takdir atau
hanya kebetulan? *jrennnggggg* *gujes gujes* hanya author dan Tuhan yang
tau lol.
Harry PoV
Aku bertemu lagi gadis yang
pernah membantuku masuk ke sekolah lewat gerbang samping. Siapa ya namanya? Aku
lupa mungkin karna luka di dahi ku yang terlihat sangat jelas walau ku tutupi
plester? Luka ini diberikan dari pentolan sekolah lain saat aku membela
sekolahku yang mengakibatkan aku amnesia sampai tak bisa menghapal nama orang. Ya
bisa kau lihat sendiri aku ini pahlawan sekolahku dari gunjingan busuk sekolah
sekolah lain yang saat mengganggu ketenangan telingaku tapi guru-guru tidak menghargai usaha ku untuk
membela sekolah , harusnya mereka berterimakasih denganku. Dengan mengorbankan
badanku demi membela sekolah ini. Ya sudahlah apa peduliku?.
Tap .. tap … suara langkah kaki hendak
menghampiriku. Who? Apa dia ingin mengajakku berkelahi? Tak mungkin, berani
sekali dia. Tapi suaranya langkah kakinya makin lama makin mendekatiku ‘kau
yang dibelakang. Apa yang kau butuhkan dariku. Cepat bicara atau aku akan
menghajarmu’. ‘anu … harry maaf’ suara
nya seperti ku kenal, tapi siapa? Aku tak bisa mengingatnya. Aku pun menoleh ke
sumber suara itu. Ha? Cewek yang waktu itu. Mau ngapain dia ‘eh elo, ada urusan
apaan sampe ngikutin gue segala’ ketusku. ‘anu harry kakimu sudah gapapa?’
tanyanya takut. ‘lo liat sendiri, gue ga pake tongkatkan?. Artinya gue gapapa’.
‘eung gitu ya, syukurlah eh kepalamu ….’ dia mencoba menyentuh dahi ku,
seketika aku tampar tangannya ‘mau apa lo? Jauhin tangan lo dari dahi gue’ ‘tapi
itu plestermu mau lepas’ isaknya sambil memegang tangan yang ku tampar. mungkin
itu sakit, aku lepas control karena selama ini tak ada yang pernah menyentuhku
selain orangtua ku yang sekarang entah dimana. ‘apa peduli lo? Gue ga perlu bantuan
lo, makasih tapi gue GA BUTUH !’ aku pun bergegas meninggalkannya sendiri. Dan saat
aku meninggalkan nya aku dihantui rasa bersalah. Mengapa aku sangat jahat
padanya, apa itu melukai perasaannya? halah sudah lah kenapa aku harus
memikirkannya.
Risa
Pov
Aduh sakit …. Aku hanya ingin membetulkan plesternya, tapi
kenapa aku di hajarnya? Kukira dia baik. Huh ya sudah, mungkin moodnya sedang
jelek saat ini. Lebih baik aku ke kelas karena sebentar lagi pelajaran akan
dimulai.
No comments:
Post a Comment