Monday, May 13, 2013

Risa Harry Another story: When we First Meet part.2 (Devilish attitude)


Hari selanjutnya … mereka jadi sering bertemu.  apakah itu takdir atau hanya kebetulan? *jrennnggggg* *gujes gujes* hanya author dan Tuhan yang tau lol.



Harry PoV
Aku bertemu lagi gadis yang pernah membantuku masuk ke sekolah lewat gerbang samping. Siapa ya namanya? Aku lupa mungkin karna luka di dahi ku yang terlihat sangat jelas walau ku tutupi plester? Luka ini diberikan dari pentolan sekolah lain saat aku membela sekolahku yang mengakibatkan aku amnesia sampai tak bisa menghapal nama orang. Ya bisa kau lihat sendiri aku ini pahlawan sekolahku dari gunjingan busuk sekolah sekolah lain yang saat mengganggu ketenangan telingaku  tapi guru-guru tidak menghargai usaha ku untuk membela sekolah , harusnya mereka berterimakasih denganku. Dengan mengorbankan badanku demi membela sekolah ini. Ya sudahlah apa peduliku?.
Tap .. tap … suara langkah kaki hendak menghampiriku. Who? Apa dia ingin mengajakku berkelahi? Tak mungkin, berani sekali dia. Tapi suaranya langkah kakinya makin lama makin mendekatiku ‘kau yang dibelakang. Apa yang kau butuhkan dariku. Cepat bicara atau aku akan menghajarmu’. ‘anu  … harry maaf’ suara nya seperti ku kenal, tapi siapa? Aku tak bisa mengingatnya. Aku pun menoleh ke sumber suara itu. Ha? Cewek yang waktu itu. Mau ngapain dia ‘eh elo, ada urusan apaan sampe ngikutin gue segala’ ketusku. ‘anu harry kakimu sudah gapapa?’ tanyanya takut. ‘lo liat sendiri, gue ga pake tongkatkan?. Artinya gue gapapa’. ‘eung gitu ya, syukurlah eh kepalamu ….’ dia mencoba menyentuh dahi ku, seketika aku tampar tangannya ‘mau apa lo? Jauhin tangan lo dari dahi gue’ ‘tapi itu plestermu mau lepas’ isaknya sambil memegang tangan yang ku tampar. mungkin itu sakit, aku lepas control karena selama ini tak ada yang pernah menyentuhku selain orangtua ku yang sekarang entah dimana. ‘apa peduli lo? Gue ga perlu bantuan lo, makasih tapi gue GA BUTUH !’ aku pun bergegas meninggalkannya sendiri. Dan saat aku meninggalkan nya aku dihantui rasa bersalah. Mengapa aku sangat jahat padanya, apa itu melukai perasaannya? halah sudah lah kenapa aku harus memikirkannya.



Risa Pov
Aduh sakit …. Aku hanya ingin membetulkan plesternya, tapi kenapa aku di hajarnya? Kukira dia baik. Huh ya sudah, mungkin moodnya sedang jelek saat ini. Lebih baik aku ke kelas karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. 

No comments:

Post a Comment