Tuesday, May 14, 2013

Risa Harry Another story: When we First Meet part.5 (When that Devil fallin' down)


Risa lagi seneng gara-gara sebelumnya pergi bersama harry. Apakah ke bahagiaan risa masih berlanjut sampai hari ini?





Esoknya sehabis mereka jalan bersama


Semenjak hari itu Risa selalu tersenyum, Moodnya sedang baik. “ehehehehehe” dia tertawa kecil entah seperti sudah tidak waras lagi. Vita dan dea (teman baik risa) meneriaki nama nya di depan telinga nya langsung “RISA ! OI RISA !” tetapi risa tidak merespon nya walau hanya sebuah kedipan mata. Kenapa dengan risa sebenarnya?




Risa Pov

Entah? Aku sangat senang hari ini. Apalagi saat harry mengambilkanku boneka di claw machine itu. Tiba-tiba rasa geli datang dari pinggangku. “ahahahahah. Geli geli” ternyata rasa geli di tubuhku disebabkan oleh Vita. Ya dia memang sangat jahil. Dea saja pernah di gelitiki oleh dia sampai tidak bisa berdiri dan perut nya sakit.

“woi ngapa ketawa-ketawa ris” sahut vita
“eh? Aku habis jalan kemarin minggu bersama Harry kita ke ….”
“Harry? Anak berandalan itu? Yang tampangnya penuh dengan luka itu?” potong dea

Oh tidak aku keceplosan bicara … bagaimana ini ….. apa mereka akan memarahiku?

“ehehe iya”

Mereka membisu sebentar dan saling bertatapan satu sama lain seperti sebuah bahasa tubuh.

“sejak kapan kau dekat dengannya” Tanya vita padaku
“eum sekitar 1 bulan yang lalu”
“kamu tidak di apa-apakannya kan?” Tanya dea
“engga aku gapapa kok serius”
“asal cowok itu ga nyakitin risa gapapa lah de, biarin aja mereka untuk dekat satu sama lain” ucap vita
“iya vit, btw hubungan kamu dengan harry sejauh mana ris” Tanya dea. Penasaran
“kita Cuma temen kok. Soalnya kita menjalani rutinitas seperti layaknya teman. Jalan bersama, saling berbagi, selalu kemana pun bersama-sama”
“dasar si bodoh ini” vita menggelengkan kepalanya dan menghela nafas pelan. Aku tak mengerti. Kenapa vita bilang ‘BODOH’ padaku? Kenapa?
“dengerin ya ris. Kalian itu beda” omong dea. beda? Darimana nya yang beda de?
“kita sama kok. Sama sama manusia apanya yang beda?”
“anak ini” vita memukul meja yang berada di sebelahnya.
“maksudnya. Kamu ini wanita sedangkan dia pria. Apa wajar sepasang pria dan wanita melewatkan waktu bersama tapi hubungan mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih?” ucap dea

Aku tak mungkin bilang kan kalau aku ini ‘Budak’ nya harry kepada mereka? Lebih baik aku diam saja. Bruk sebuah tangan mendarat pas di muka ku “gue cari dari tadi. Ayo pergi tinggalin mereka” ini kan suara harry? Oh iya aku ada janji dengannya selalu menemaninya ke kantin. Harry pun menggengam tanganku dan menerobos vita dan dea. “maafkan aku, lain waktu ku jelaskan” kataku kepada vita dan dea yang mendadak mematung. Aku memandang wajah harry lekat-lekat, wajahnya bersih tanpa luka menghiasi.

“kamu gak berkelahi lagi har”
“ya engga lah kan gue dah janji sama lo” cetuk nya

Eh? Dia tidak berkelahi karna janji itu? Ternyata dia tidak berdusta. Kami sampai di kantin, harry sudah menentukan bangku yang akan kami duduki. Ia menduduki bangku itu, Kakinya diangkat di atas meja. “beliin gue permen lollipop dan cepat kembali” suruhnya. Aku langsung menuju warung di seberang tempat yang ia duduki. “kasian banget cewek itu mau aja di budakin sama harry. Gue mah kalau jadi dia bakal lapor guru” “idih guru-guru aja takut sama harry. Mau lapor sama siapa lagi” cetuk orang-orang yang berada di sekitar kami. Jangan menilai orang hanya dari covernya saja, harry itu baik asal kalian tau. Permen lollipop yang ia minta sudah ada di dalam genggamanku, aku bergegas menuju tempat harry. Eh … ternyata ada batu? Aku tersandung dan siap untuk mendarat jatuh ke tanah, aku menutup mataku karna takut melihat langsung. Eh? Kok tidak sakit? Bahkan empuk. Aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan. Badan? Siapa yang aku timpa? “bodoh. Makanya kalau jalan hati-hati” suara seorang lelaki. Seperti suara Harry?. Memang itu suara harry ! “eh, anu harry maafkan aku” malunya. Aku bisa mati karna malu kalau seperti ini, ah bodohnya aku.




Harry PoV

Lama sekali, padahal dia Cuma membeli lollipop dan lagi orang-orang disini tidak mau bersahabat denganku. Mereka mengunjing ku tanpa henti, Kalian mau ku hajar satu-satu? Daripada aku marah dengan mereka lebih baik ku susul cewek itu.

Aku akhirnya menemukannya … “ho ….” Dia sepertinya tersandung, apa aku harus menolongnya?. Ah bodoh tak ada lagi waktu untuk berfikir. Secepat kilat aku menjatuhkan diriku di bawahnya agar dia menimpa badanku dan tidak merasakan sakit.

Brug …
Ternyata dia lumayan berat. “hey bodoh, kalau jalan hati-hati” ketusku. Seperti biasa dia hanya berkata ‘eh?’. Ah eh ah eh, cepatlah berdiri kau itu berat tahu.
“CIEEE. Kalau mau bermesraan jangan di kantin dong. Disini banyak yang masih single” ledek seorang wanita. Dan gara-gara ledekan wanita itu semua orang menyoraki kami. Karna aku tak tahan karna malu aku menyilangkan lenganku seperti tameng saat aku berkelahi untuk menutupi mataku. Bodoh kenapa cewek ini tidak bangun-bangun? Apa dia juga merasakan malu sepertiku? Ahhhh sudah dong meledeknya, oke oke aku mengaku kalau aku kalah kali ini.

No comments:

Post a Comment